Kemarin baru saja saya menghadiri satu kebaktian penghiburan dari salah satu saudara di dalam Kristus. Saudara itu meninggal di usia 67 tahun. Usia yang cukup lumayan untuk rata-rata manusia di jaman ini. Kehadiran saya di penghiburan itu membuat saya merenung dan berpikir. Memang benar perkataan Pengkotbah bahwa lebih bijaksana menghadari perkabungan daripada pesta pernikahan. Sepertinya sekilas ini seperti pandangan yang ekstrim tetapi sebenarnya ada pelajaran yang Pengkotbah mau ajarkan bahwa kesenangan di dalam dunia ini sementara dan fana. Dan ketika saya merenung-renung akan waktu dan hidup di dunia ini.

Saya menyadari usia saya sebentar lagi memasuki usia 30 tahun. Dan itu tentunya bukan usia yang kecil lagi. 10 tahun akan berlalu dengan cepat dan akan memasuki usia 40an. Itu pun kalau anugerah Tuhan mengijinkan saya untuk berada di dunia ini dengan lebih lama. Atau misalnya 20 sampai 30 tahun bahkan 40 tahun lagi diberikan kesempatan hidup. Itu pun masih sangat singkat sekali. Coba anda merenung di dalam hidup anda sendiri apakah anda menyadari bawha Hidup manusia di bumi ini benar-benar sungguh sangat singkat sekali. Seperti rumput yang tumbuh dan akan lisut. Seperti bunga yang mekar dan layu. Sebentar saja semua akan berlalu.

 

Perenungan saya akan waktu dan hidup ini menggugah saya untuk memikirkan kembali apa makna dan arti hidup kita ini. Ketika saya sudah bisa mendapatkan penghasilan di dalam dunia usaha, saya mulai sedikit banyak merasakan apa nikmatnya itu kalau mempunyai materi. Dunia materi ini memang diciptakan Tuhan Allah untuk manusia untuk menikmatinya dan manusia diciptakan untuk kemuliaan nama Tuhan. Tidak dapat disangkal bahwa ada kenikmatan dan kesenangan di dalam memiliki materi di dalam dunia ini. Kita dapat makan makanan yang cukup lumayan. Bisa beli barang. Bisa merasa mandiri. Saya sendiri bersyukur akan hal ini karena inipun merupakan berkat yang sudah Tuhan berikan di dalam hidup kita. Tetapi saya juga merenungkan satu hal untuk berhati-hati tidak menjadikan tujuan mengejar materi itu sebagai fokus utama di dalam hidup sehari-hari. Karena kenikmatan dunia itu fana. Satu hal bahwa ketika kita meninggal dunia maka materi dan segala kenikmtannya itu tidak dibawa mati. Orang yang meninggal itu menghembuskan nafas dan dia relax dan lepas. Semuanya dia lepas dan tidak ada yang dapat dia genggam dan bawa ke kekekalan.

Merenungkan hidup itu sangat singkat membuat kita harus belajar untuk mengisinya dengan sesuatu yang bermakna lebih dalam dan lebih tahan lama. Di dalam dunia ini ada yang sementara dan ada yang lebih bersifat kekal. Kenikmatan dunia dan isinya itu memang nikmat tetapi sementara. Firman Tuhan, kehendak Tuhan, mengasihi Tuhan itu lebih bersifat kekal. Adalah bodoh bagi kita untuk mencari hal-hal yang kita pikir itu bertahan lama padahal ternyata akan lepas dari kita dan adalah bijak bagi kita untuk mencari sesuatu yang bermakna dan tidak bisa direbut dari kita. Akhir kata dari perenungan ini yang sangat singkat ini semoga memberikan perenungan yang lebih tahan lama. Yaitu bahwa hidup ini singkat dan hidup ini sementara. Di dalam hidup yang singkat ini Tuhan yang baik memberikan anugerah kita untuk menikmati dunia ini namun dunia ini bersifat sementara. Di atas semua itu ada yang bersifat kekal yaitu Tuhan sendiri. Karena itu apakah yang kita mau cari dan raih dalam hidup sementara ini ? Sesuatu yang fana atau sesuatu yang kekal ? Marilah kita belajar berbijaksana mengisi hidup ini.

Jeffrey Lim
Bandung, 21 May 2010
Perenungan setelah menghadiri kebaktian perkabungan

Add comment


Security code
Refresh

We have 3 guests and no members online